Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Hubungan Menulis dengan Keteramplan Berbahasa yang Lain

Keterampilan berbahasa mencakup empat komponen. Keempat komponen itu adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat komponen tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat. 


1. Hubungan menulis dengan membaca. 
Menulisa dan membaca adalah kegiatan berbahasa tulis. Pesan yang disampaikan penulis diterima oleh pembaca dijembatani melalui lambang bahasa yang dituliskan. Membaca dan menulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembaca sebagai penulis (Tompskin dan Hosskisson, 1995 ).

Penulis sebagai pembaca, Artinya, ketika aktifitas menulis berlangsung si penulis membaca karangannya. Ia membayangkan dirinya sebagai pembaca untuk melihat dan menilai apakah tulisannya telah menyajikan sesuatu yang berarti, apakah ada yang tidak layak saji, serta apakah tulisannya menarik dan enak dibaca.


Penulis pun melakukan berbagai kegiatan membaca lainnya. Ia membaca karya penulis lain untuk mendapatkan ide dan informasi, menemukan, dan memecahkan masalah, juga mempelajari bagaimana pengarang menyajikan dan mengolah tulisannya. Kualitas pengalaman membaca ini akan mempengaruhi keberhasilan dalam menulis.

Pembaca sebagai penulis, Artinya, ketika berlangsung kegiatan membaca, pembaca melakukan aktifitas seperti yang dilakukan penulis. Pembaca menemukan topik dan tujuan penulisan, gagasan dan kaitan antar gagasan, dan kejelasan uraian. Dia menganalisa atau merekonstruksi dengan membayangkan apa yang dimaksudkan dan diinginkan penulisnya sehingga pesan yang penulis sampaikan dapat ditangkap dengan baik.


2. Hubungan menulis dengan menyimak
Pada saat menulis, seseorang membutuhkan inspirasi, ide, atau informasi untuk tulisannya. Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber : sumber tercetak, seperti buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain. Juga dari sumber tak tercetak seperti radio, televisi, wawancara, diskusi, dan lain-lain. Jika dari sumber tercetak informasi diperoleh dengan cara membaca, maka dari sumber tak tercetak perolehan informasi dilakukan dengan cara menyimak.


Melalui kegiatan menyimak penulis tidak hanya memperoleh ide atau informasi saja, tetapi juga menginspirasi tata saji dan penyampaian lisan yang menarik hatinya, yang berguna untuk aktifitas menulisnya.

3. Hubungan menulis dengan berbicara
Antara menulis dan berbicara keduanya merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat aktif-produktif. Artinya penulis dan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan kepada pihak lain. Keduanya harus mengambil sejumlah keputusan berkaitan dengan topik, tujuan, jenis informasi yang akan disampaikan, serta cara penyampaiannya sesuai dengan sasaran ( pembaca dan pendengar ) dan corak teksnya ( eksposisi, narasi, deskripsi, argumentasi, dan persuasi ).

Minggu, 09 Oktober 2011

Penggunaan Kata-kata Bersinonim

Dalam sebuah bahasa sering ditemukan kata bersinonim. Sinonim adalah kata-kata yang memiliki kesamaan arti secara struktural atau leksikal dalam berbagai urutan kata-kata sehingga memiliki daya tukar (substitusi). Diperlukan kejelian kita  untuk mencari perbedaanya agar kita dapat memilih dengan tepat dalam  penggunaan kata-kata bersinonim tersebut. Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu kategori kata yang bersinonim tersebut agar dapat memilih salah satu dari anggota sinonim dengan tepat :



Pertama, Sinonim yang salah  satu anggotanya bermakna lebih umum, sementara yang lain lebih khusu. Ukuranya adalah keluasan kandungan makna : kata yang umum memiliki makna lebih luas daripada anggota sinonim yang lain, seperti pada contoh di bawah ini :


Bermakna Umum Bermakna Khusus
buku
kitab
pemberian
sedekah
bersekolah
berkuliah
guru
dosen
buku
kitab


Menghadapi kata-kata yang demikian, kita perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip penggunaaan kata dengan memilih kata yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Perhatikan contoh berikut :
  1. Ayah saya bekerja sebagai seorang guru.
  2. Ayah saya bekerja sebagai seorang dosen
Dalam memilih kata guru pada kalimat (1) bermaksud bahwa kita ingin menunjukkan kata yang umum. Ada kemungkinan bahwa kata ayah dalam kalimat tersebut bisa seorang guru SD, Guru SMP, Guru SMA, dan lain-lain. Pada kalimat (2) pilihan kata dosen menunjukkan bahwa ayah yang disebutkan dalam kalimat adalah seorang yang mengajar di perguruan tinggi.


Kedua, jenis sinonim yang letak perbedaannya terletak pada intensitas makna. Salah satu anggota sinonim bermakna lebih intensif daripada makna yang lain. Perhatikan daftar sinonim berikut :
Lebih Intensif Kurang Intensif
meneliti
memeriksa, mempelajari
memeriksa
melihat
melihat
melirik
menjenguk
menengok
mengganggu
mengacau

Perhatikan contoh kalimat berikut :

  1. Setiap pembeli berhak untuk menentukkan pilihan barang. Karena itu dia berhak pula untuk meneliti barang yang akan dibelinya.
  2. Setiap pembeli berhak menentukan pilihan barang. Karena itu, dia berhak pula untuk memeriksa barang yang akan dibelinya.
  3. Setiap pembeli berhak untuk menentukan  pilihan barang. Karena itu, dia berhak pula untuk melihat barang yang akan dibelinya.
Dapat dilihat bahwa kata meneliti pada kalimat (1) dipilih karena maknanya lebih intensif daripada kata memeriksa pada kalimat (2), dan kata melihat pada kalimat (3) tidak seintensif kata meneliti dan memeriksa. Kita tidak dihadapkan pada penggunaan kata yang salah atau benar, tetapi pada tingkat intensitas makna kata.


Ketiga, jenis sinonim yang perbedaannya terletak pada makna emotifnya. Dua kata atau lebih memiliki makna yang hampir sama, dan perbedaannya pada makna emotifnya. Perhatikan contoh sinonim berikut :


LebihEmotif Kurang Emotif
bengis
kejam
nyaman
enak
duka
sedih, susah
ikhlas
lega
Pilihan kata yang berbeda tingkat emotifnya berdampak pada makna kalimat, seperti contoh berikut :

  1. Keluarga Agus sedang dalam suasana duka. Dua orang anaknya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
  2. Keluarga Agus sedang dalam suasana sedih. Dua orang anaknya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
  3. Keluarga Agus sedang dalam suasana susah. Dua orang anaknya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Keempat, jenis sinonim yang berbeda dalam penggunaan umum dan teknis. Satu anggota kata yang bersinonim itu berlaku pada penggunaan bahasa dalam ragam komunikasi umum, sedangkan kata yang lain berlaku dalam ragam bahasa teknis. Ragam bahasa teknis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam bidang ilmu tertentu. Daftar berikut menunjukkan perbedaan tersebut :
Umum Teknis
dubur
anus
mutasi
perpindahan
amputasi
potong
renovasi
perbaikan


Dalam kata bersinonim yang letak perbedaannya pada penggunaan umum dan teknis. Kita tidak dihadapkan pada penggunaan kata yang salah atau benar. Pilihan kata yang kita gunakan ditentukan oleh jenis ragam bahasa yang kita gunakan.


Kelima,  jenis sinonim yang memiliki perbedaan tingkat kebakuannya. Kita tidak dihadapkan pada pilihan kata yang salah dan benar, tetapi pada kata yang baku dan tidak baku. Kata baku dan tidak baku boleh digunakan dalam tulisan, tergantung pada ragam bahasa yang kita gunakan. Jika ragam bahasa yang kita gunakan adalah ragam bahasa baku, kata-kata yang kita gunakan juga kata-kata yang baku. Daftar berikut dipaparkan kata berciri baku dan tidak baku berdasarkan pilihan leksikon


Leksikon Baku Leksikon Tidak Baku
tetapi
tapi
bagi
buat
lepas
copot
karena
lantaran

Sabtu, 08 Oktober 2011

Bahasa Indonesia dalam Surat Menyurat

Surat merupakan salah satu bentuk karangan. Hal-hal yang berlaku dalam pengembangan suatu karangan pada dasarnya berlaku pula untuk surat, misalnya topik, tujuan, sasaran, ejaan, diksi, gaya bahasa, pengkalimatan dan pengalineaan. Begitu pula dengan proses yang terlibat didalamnya, seperti perencanaan, penulisan, dan penyempurnaan, juga terjadi dalam pembuatan surat. Sebelum menulis surat, kita harus jelas dulu apa yang akan kita tulis, apa tujuan dan hasil yang kita harapkan, serta siapa yang akan kita tuju oleh surat kita. 

Secara umum bahasa surat resmi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Bahasa yang jelas. Maksudnya bahasa yang digunakan tidak memberi peluang untuk ditafsirkan berbeda dari maksud penulis surat.
  2. Bahasa yang lugas dan singkat, artinya bahasa yang digunakan langsung tertuju pada permasalahan yang ingin kita kemukakan. Kelugasan pemakaian bahasa ditunjukkan dalam pemakaian bahasa yang ringkas tetapi padat makna. Intinya, langsung dan tidak berbelit-belit.
  3. Bahasa yang santun, yakni bahasa yang dapat menunjukkan rasa hormat dan penghargaan yang wajar dari pengirim terhadap penerima surat. Kesantunan bahasa tidak boleh berlebihan dan pengiriman surat jangan sampai menyajung sasaranya dan merendahkan si pengirim surat.
  4. Bahasa yang resmi, yaitu bahasa yang mengikuti kaidah baku bahasa Indonesia. Kebakuan ragam bahasa itu akan tercermin dalam ejaan, pilihan kata, dan struktur bahasa yang digunaka.

Kiat Menyusun Kalimat Efektif

Ada beberapa kiat dalam menyusun kalimat efektif yang dapat anda lakukan. Kiat tersebut perlu kita pahami agar kalimat yang kita buat menjadi kalimat efektif. Ada tiga kiat yang akan dibahas pada tulisan ini, antara lain :
  • Kiat Pertama, Kiat Pengulangan
Untuk menghasilkan sebuah kalimat yang efektif, kiat pengulangan digunakan untuk memperlihatkan bagian yang diutamakan dalam kalimat. Dengan pengulangan tersebut kalimat yang kita ulang menjadi lebih menonjol. Pengulangan tersebut dapat diperlihatkan dalam sebuah kalimat seperti contoh di bawah ini :


Untuk mencapai cita-cita diperlukan semangat, semangat, dan sekali lagi semangat.


Pengulangan tidak harus dengan bentuk yang sama, pengulangan dapat dilakukan dengan bentuk yang berbeda. Sehingga pengungkapan menjadi bentuk yang bervariasi. Variasi bertujuan untuk lebih menonjolkan informasi, juga membuat tuturan menjadi lebih segar. Pengulangan dapat kita lakukan dengan sinonim, juga pada untaian kata.
  • Kiat Kedua, Pengedepanan
Dalam menyampaikan informasi pengedepanan bertujuan untuk menunjukkan bahwa hal yang dikedepankan itu penting. Jika ada kepentingan menonjolkan informasi, bagian yang berisi informasi ditampilkan pada bagian awal kalimat seperti contoh di bawah ini :


Belajar dapat menambah ilmu pengetahuan.  Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan setiap hari.
  • Kiat Ketiga, Penyejajaran
Untuk membuat kalimat efektif dapat kita lakukan penyejajaran. Penyejajaran menimbulkan kesan bahwa unsur yang disejajarkan itu penting, seperti contoh kalimat di bawah ini :


Menulis bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan. Menulis bukanlah momok, yang membuat orang ketakutan, Menulis adalah kegiatan kreatif mengisi waktu luang.


Hal yang perlu kita perhatikan dalam penyejajaran adalah konsistensi, yang terdiri dari konsistensi kategori dan konsistensi struktur. Konsistensi kategori ditampilkan pada kategori kata, jika penjejajarn dilakukan pada kata kerja, selanjutnya juga dengan kata kerja. Misal kata melirik, anggota selanjutnya adalah melihat, memperhatikan, melototi, dan sebagainya. Konsistensi struktur dapat dilihat pada struktur bentukan. Misalnya me-kan, kata melakukan anggota selanjutnya adalah melarikan, meletakkan, dan sebagainya.

Jumat, 07 Oktober 2011

Memperkenalkan Bahasa Indonesia Pada Anak

Tidak ada salahnya memperkenalkan Bahasa Indonesia sejak usia dini. Apalagi sekarang dengan berkembangnya jaman, Bahasa Indonesia sepertinya kurang  mendapat tempat. Jika dilihat tulisan-tulisan di pinggir jalan, banyak sekali spanduk, baliho, plakat yang bertuliskan "Kursus Bahasa Inggris", "Kursus Bahasa Korea", "Kursus Bahasa Jepang", dan lain-lain. Mengapa jarang sekali ditemukan spanduk bertuliskan "Menerima Kursus Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar". Pada kenyataanya hasil dari Ujian Nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia kurang maksimal. Malah ada yang beranggapan bahwa Bahasa Inggris dan lain-lain lebih mudah daripada Bahasa Indonesia, tentunya Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Usia balita merupakan masa peka untuk belajar. Anak mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyerap aneka rangsangan dari luar, termasuk rangsangan bahasa. Tetapi di sisi lain ia sedang dalam masa bermain dan mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang lain seperti emosi dan sosial. Sebagai dasar untuk pengembangan pada anak usia balita harus melalui rasa senang, bebas , dan aman secara psikologis.Dengan demikian anak dapat mengembangkan dirinya secara optimal. 


Seperti pada bahasa daerah, dimana anak tidak dipaksa oleh orang tua mereka untuk berbahasa daerah. Di Jawa misalnya,para orang tua tidak memaksa anaknya harus bisa berbahasa jawa dari kecil. Tapi dengan anak melihat, mendengarkan orang tuanya menggunakan bahasa jawa. Ia tertarik lalu mniru dengan satu, dua kata, ternyata orang tuanya menanggapi. Anak pun menjadi senang dan lama-lama menguasainya dengan baik. Demikian pula dengan Bahasa Indonesia, anak akan belajar lebih daripada sekedar meniru dengan melihat sesama orang tua  lain berbicara dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Orang tua tidak dengan sengaja mengajarkan bahasa Indonesia, tetapi si anak sendiri yang belajar dengan cara mendengarkan lalu menjadi terbiasa, dan memilih sendiri agar ia dapar berkomunikasi dengan orang tua atau lingkungannya.


Bahasa Indonesia bukan menjadi "Bahasa Asing" tetapi memang merupakan sesuatu yang dia gunakan untuk berkomunikasi. Kalau seorang anak umur tiga tahun sudah dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka untuk perkembangan selanjutnya akan mudah untuk dapat berbahasa yang baik dan benar.

Kamis, 06 Oktober 2011

Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu. Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
  • Merari Siregar
Azab dan Sengsara (1920)
Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
Cinta dan Hawa Nafsu
  • Marah Roesli
Siti Nurbaya (1922)
La Hami (1924)
Anak dan Kemenakan (1956)
  • Muhammad Yamin
Tanah Air (1922)
Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
  • Nur Sutan Iskandar
Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
Cinta yang Membawa Maut (1926)
Salah Pilih (1928)
Karena Mentua (1932)
Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
Hulubalang Raja (1934)
Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)

  • Tulis Sutan Sati
Tak Disangka (1923)
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Membalas Guna (1932)
Memutuskan Pertalian (1932)
  • Djamaluddin Adinegoro
Darah Muda (1927)
Asmara Jaya (1928)
  • Abas Soetan Pamoentjak
Pertemuan (1927)
  • Abdul Muis
Salah Asuhan (1928)
Pertemuan Djodoh (1933)
  • Aman Datuk Madjoindo
Menebus Dosa (1932)
Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More